Browse > Rubrik Edukasi > Karakter sebagai Prioritas Pembangunan Bangsa

Karakter sebagai Prioritas Pembangunan Bangsa

Artikel Karakter sebagai Prioritas Pembangunan Bangsa dari Bpk Rofiun, S.Pd

Perkembangan kehidupan masyarakat yang terjadi pada  dekade pertama abad ke 21 ini sangat cepat yang dipicu terutama oleh adanya perkembangan teknologi informasi dan tantangan global. Tantangan global menuntut adanya penyikapan dan persiapan yang hati-hati supaya tidak menjadi ancaman dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Bangsa Indonesia dihadapkan pada berbagai tantangan global dalam berbagai bentuk persaingan dalam berbagai bidang seperti bidang ekonomi, sosial, budaya dan teknologi. Selain persaingan yang bersifat internasional, bangsa Indonesia menghadapi pula masalah-masalah yang berkenaan dengan perkembangan kehidupan kebangsaan. Perubahan sistem ketatanegaraan dari sentralistik dengan otonomi terbatas ke sistem pemerintahan desentralistis dengan otonomi yang lebih luas memerlukan kesiapan warga negara dalam pengetahuan, sikap, cara berkomunikasi, nilai, cara berpartisipasi, kemampuan belajar, cara berpikir, kebiasaan kerja keras, jujur, semangat kebangsaan yang sesuai dengan kehidupan demokratis. Memasuki kehidupan yang jelas berbeda dengan masa sebelumnya ini generasi muda bangsa Indonesia perlu dipersiapkan untuk menghadapi kehidupan berbangsa yang sedang berproses, dan pendidikan adalah merupakan wahana yang paling ampuh untuk mempersiapkan generasi muda baru untuk menghadapi kehidupan kebangsaan yang baru. Pemikiran yang demikian inilah yang melahirkan kebijakan pemerintah untuk mengembangkan pendidikan karakter.

Untuk mendukung perwujudan cita-cita pembangunan karakter dalam usaha mengatasi masalah kebangsaan yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini maka pemerintah menjadikan pendidikan karakter sebagai salah satu program prioritas pembangunan nasional. Sebagai prioritas program Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 2010-2014, yang dituangkan dalam Rencana Aksi Nasional Pendidikan Karakter ( 2010 ) pendidikan karakter disebutkan sebagai pendidikan nilai, pendidikan budi pekerti, pendidikan moral, pendidikan watak yang bertujuan mengembangkan kemampuan seluruh warga sekolah untuk memberikan keputusan baik-buruk, keteladanan, memelihara apa yang baik dan mewujudkan kebaikan itu dalam kehidupan sehari-hari dengan sepenuh hati.

Pendidikan karakter bertujuan mengembangkan nilai-nilai yang membentukkarakterbangsa yaitu Pancasila, yang meliputi: mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia berhati baik, berpikiran baik, dan berperilaku baik, kemudian membangun bangsa yang berkarakter Pancasila, serta mengembangkan potensi warganegara agar memiliki sikap percaya diri, bangga pada bangsa dan negaranya serta mencintai umat manusia.

Pendidikan karakter berfungsi untuk membangun kehidupan kebangsaan yang multikultural, serta membangun peradaban bangsa yang cerdas, berbudaya luhur, dan mampu berkontribusi terhadap pengembangan kehidupan umat manusia, mengembangkan potensi dasar agar berhati baik, berpikiran baik, dan berperilaku baik serta keteladanan baik, dan juga membangun sikap warga negara yang cinta damai, kreatif, mandiri, dan mampu hidup berdampingan dengan bangsa lain.

Pendidikan karakter disini mengharuskan peserta didik tidak hanya mengetahui tentang perbuatan baik dan buruk, melainkan harus mampu mengaplikasikan nilai-nilai dengan benar dalam kehidupan sehari-hari. Proses internalisasi dan penghayatan nilai-nilai pendidikan karakter dilakukan peserta didik secara aktif dibawah bimbingan dan pengawasan guru, kepala sekolah dan tenaga kependidikan serta diwujudkan dalam kehidupan di kelas, sekolah dan masyarakat. Nilai-nilai tersebut dikembangkan dalam suatu proses internalisasi yang dilakukan secara aktif oleh peserta didik sehingga menjadi milik mereka, bukan hanya diajarkan sebagaimana ketika mereka belajar tentang fakta, peristiwa, konsep, prosedur dan hukum. Selanjutnya penghayatan mengandung makna bahwa nilai/moral/sikap yang sudah dimiliki melalui proses internalisasi dikembangkan dan dimantapkan peserta didik menjadi kebiasaan.

Pendidikan karakter secara menyeluruh pada kehidupan manusia bukan semata-mata merupakan tugas dunia pendidikan, melainkan tugas dan tanggung jawab bangsa secara keseluruhan, meskipun harus diakui bahwa pembentukan karakter pribadi seseorang sebagian besar dibentuk oleh pendidikannya. Nilai-nilai pendidikan karakter bersumber dari agama, Pancasila, budaya dan tujuan pendidikan nasional, yang pelaksanaannya dilakukan melalui berbagai media seperti keluarga, satuan pendidikan, masyarakat, pemerintah, dunia usaha dan media massa.

Dari uraian tersebut diatas maka pendidikan karakter melalui khuruj fi sabilillah diperlukan karena disamping hal tersebut memang bagian dari kegiatan khuruj fi sabilillah, adalah sebagai bagian dari peran serta dan tanggung jawab masyarakat dalam berpartisipasi membangun karakter bangsa.

Sebelum bertugas sebagai guru IPS pada SMK Negeri 1 Temanggung, penulis bertugas sebagai Kepala SMP Negeri 1 Gemawang Kabupaten Temanggung sehingga disamping bertugas sebagai guru juga bertanggungjawab terhadap pembinaan siswa, termasuk juga yang berkaitan dengan pendidikan karakter. Pada kurun waktu tersebut, yaitu pada tahun pelajaran 2011/2012 terdapat pelanggaran terhadap tata tertib siswa yang dilakukan olehbeberapa siswa yang sudah tidak bisa diatasi oleh fihak guru,wali kelas maupun guru bimbingan dan konseling sehingga permasalahan tersebut diserahkan Kepala Sekolah untuk mengatasinya.

Permasalahan tersebut dilakukan oleh enam siswa yang meliputi kelas VII, VIII dan IX berupa tindakan minum obat-obat terlarang yang telah merubah kondisi fisik dan mental siswa tersebut sehingga karakternya menjadi sangat tidak baik serta mengganggu suasana pendidikan di lingkungan sekolah dan proses pembelajaran di kelas, karena tingkah laku dari siswa tersebut sering mengganggu temannya dan suasana sekolah dan kelas menjadi tidak kondusif. Permasalahan tersebut sudah diketahui masyarakat, bahkan dari fihak Kepolisian Resor Temanggung melalui Tim Satuan Narkoba menemui penulis ke sekolah yang saat itu sebagai Kepala Sekolah. Tujuannya adalah  untuk ikut mengatasi permasalahan  tersebut dengan alasan karena kalau tidak segera diatasi bukan hanya mengganggu suasana sekolah atau kelas akan tetapi berdampak negatif pada kehidupan masyarakat luas. Begitu beratnya permasalahan tersebut namun penulis punya cara khusus untuk mengatasinya sehingga fihak kepolisian pada saat itu kami sarankan untuk memberi nasehat kepada siswa tersebut serta klarifikasi data dan pada tahap berikutnya penulis selaku Kepala Sekolah siap untuk menyelesaikan, dengan cara siswa yang bermasalah ditugaskan untuk mengikuti kegiatan khuruj fi sabilillah.


Diposting pada: 2013-11-16, oleh : Admin, Kategori: Rubrik Edukasi
Print BeritaPrint PDFPDF



Ada 0 komentar untuk berita ini
Tinggalkan Komentar

Nama *
Email * tidak akan diterbitkan
Url  masukkan tanpa http:// contoh www.rubrik.web.id
Komentar *
security image
 Masukkan kode diatas